Surat Wasiat Presiden Soekarno Kepada Tan Malaka

Kisah Tan Malaka Dapat Surat Wasiat Soekarno — Pada tanggal 16 Juni 1970, Presiden Soekarno meninggal dunia. Sebelum Beliau meninggal, Tidak biasanya Presiden Soekarno meminta dokter pribadinya dr Soeharto menyiapkan ruangan khusus untuk menerima seorang tamu penting di rumahnya, Jalan Kramat Raya, No 28, Jakarta.

kisah tan malaka

Pertemuan itu dilangsungkan dengan sangat rahasia, di hari pertama Hari Raya Idul Fitri 1945 atau 9 September 1945. Dengan diantar ajudan pribadinya, Soekarno datang lebih dahulu ke rumah dr Soeharto. Tidak berselang lama, tokoh pemuda Sajoeti Melik datang bersama rekannya menggunakan sepeda. Pria itu mengaku bernama Abdulradjak dari Kalimantan. Inilah tamu penting yang ditunggu Soekarno.

Tetapi siapakah dia? dr Soeharto tidak pernah mengetahuinya. Mereka lalu diantar menuju kamar belakang rumahnya, di mana Soekarno sudah menunggu di dalam. Keduanya pun langsung masuk ke ruangan. Sementara dr Soeharto dan ajudan pribadi Soekarno berjaga di luar ruangan. Pembicaraan dilakukan dalam ruangan gelap. Semua lampu sengaja dimatikan untuk mengecoh intaian mata-mata Jepang.

Sebelum percakapan dimulai, kedua pemimpin beda zaman itu saling memperkenalkan diri. Di hadapan Soekarno, Abdulradjak membuka identitas aslinya dan memperkenalkan diri sebagai Tan Malaka. Nama Tan Malaka sangat tidak asing bagi Soekarno. Sejak Soekarno muda, pemikiran-pemikiran Tan Malaka sudah sangat akrab dengannya. Hampir semua buku-bukunya, telah habis dibaca dengan tuntas.

Di antara buku-buku Tan Malaka yang sangat mempengaruhi jalan pemikiran Soekarno adalah yang berjudul Naar de Republik Indonesia dan Massa Actie. Buku-buku itu merupakan bacaan wajib saat itu. Bahkan, ketika Soekarno diadili pada tahun 1933 karena tuduhan ingin melakukan pemberontakan, beberapa kutipan dalam buku Massa Actie karangan Tan Malaka disebut-sebut sebagai bahan referensinya.

Dalam pertemuan itu, Soekarno memulai, “Dalam buku Massa Aksi, rupanya saudara (Tan Malaka) anggap sifatnya imperialisme Inggris ada di antara imperialisme Belanda dan imperialisme Amerika,” katanya. Tan Malaka lalu memaparkan buku yang ditulisnya tahun 20-an itu. Namun hanya pada pembukaan dan penutupnya saja. Soekarno yang mengenal baik pemikiran Tan Malaka akhirnya merasa yakin.

Dalam percakapan itu, Sajoeti Melik hadir sebagai saksi. Perbincangan antara murid dengan guru itu ditutup dengan pemberian penghormatan yang sangat tinggi oleh Presiden Soekarno terhadap Tan Malaka. “Kalau saja tiada berdaja lagi, maka kelak pimpinan revolusi akan saja serahkan kepada saudara,” demikian Soekarno, kepada Tan Malaka.

Perbincangan selanjutnya tentang arah revolusi Indonesia yang dalam bahaya. Dalam uraiannya, Tan Malaka banyak memaparkan analisanya dengan tajam. Dia meminta pemerintahan ditarik ke pedalaman. Menurutnya, dalam waktu dekat akan terjadi perang besar di Jakarta. Analisa Tan Malaka ini membuat Soekarno cemas dan khawatir dirinya akan tersingkir. Dia lalu meminta Tan Malaka menggantikannya.

Demikian pertemuan selama beberapa jam itu akhirnya berakhir. Kedua pemimpin bangsa itu lalu membubarkan diri. Beberapa hari kemudian, kedua pemimpin itu kembali bertemu dan membahas hal serupa. Pertemuan kedua ini dilangsungkan di rumah dokter Moewardi, di Jalan Mampang, Jakarta. Berbeda dengan pertemuan pertama yang berlangsung malam hari, pertemuan kedua dilangsungkan siang hari.

Dalam pertemuan itu, Tan Malaka kembali didampingi Sajoeti Melik. Saat perbincangan berlangsung, Soekarno yang masih diliputi perasaan cemas dan khawatir, kembali mengutarakan permintaannya. Saat menanggapi permintaan Presiden Soekarno yang kedua, sikap Tan Malaka masih sama dengan yang pertama. Dia menganggap, permintaan Soekarno itu sebagai penghormatan terhadap dirinya saja.

“Usul memimpin revolusi tadi saya anggap sebagai satu kehormatan saja dan sebagai satu tanda kepercayaan dan penghargaan Bung Karno kepada saya,” terang Tan Malaka, menanggapi permintaan Soekarno. Ternyata, Soekarno serius dengan permintaannya. Pada 30 September 1945, Soekarno kembali bertemu dengan Tan Malaka. Pertemuan saat itu dilangsungkan di rumah Subardjo, di Cikini No 77, Jakarta.

Saat Soekarno tiba, di rumah itu sedang berkumpul dua orang pemimpin pergerakan Iwa Kusuma Sumantri dan Gatot Taroenamihardjo. Mereka lalu merumuskan surat wasiat Presiden Soekarno untuk Tan Malaka. Surat wasiat Presiden Soekarno untuk Tan Malaka itu juga dikenal dengan testamen politik untuk Tan Malaka. Surat ini berisi penyerahan kekuasaan pemerintahan Soekarno dan Hatta, kepada Tan Malaka.

Setelah dirumuskan, Soekarno dan Subardjo membawa surat wasiat itu kepada Hatta, untuk diperiksa kembali. Saat mengetahui surat itu berisi penyerahan kekuasaan kepada Tan Malaka, Hatta menolaknya. “Kenapa tidak bicara dahulu kepada saya? Engkau mestinya kenal baik siapa itu Tan Malaka,” sergah Hatta, saat ditemui Presiden Soekarno.

Hatta tidak mau menandatangani rumusan surat itu, karena penyerahan kekuasaan hanya kepada Tan Malaka seorang. Dia lalu mengusulkan agar nama-nama lainnya dimasukkan untuk mencegah perpecahan. Menurut Hatta, nama-nama itu harus mewakili aliran politik besar saat itu, seperti Sutan Sjahrir yang mewakili aliran politik kiri tengah, Wongsonegoro kelompok kanan feodal, dan Sukiman kelompok Islam.

Usul Hatta disetujui Presiden Soekarno, lalu dibahas kembali dengan Tan Malaka di rumah Subardjo. Saat dilakukan pembahasan, Sukiman yang mewakili kelompok Islam digantikan Iwa Kusuma Sumantri. Hatta yang hadir di rumah Subardjo menjelaskan, di kelompok kiri nama Tan Malaka dikenal sangat kontroversial. Dia bahkan tidak disenangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dahulu pernah dipimpinnya.

Kepada Tan Malaka, Hatta juga mengusulkan agar dia keliling Jawa dan memperkenalkan dirinya kepada rakyat sambil mengukur seberapa besar pengaruhnya terhadap rakyat. Usul Hatta ini diterima Tan Malaka. Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, surat wasiat itu diketik dan ditandatangani oleh Soekarno-Hatta, pada 1 Oktober 1945. Berikut petikan surat wasiat yang berisi penyerahan kekuasaan Soekarno-Hatta:

“Sjahdan datanglah saatnja buat menentukan ke tangan siapa akan ditaruhkan obor kemerdekaan, seandainya kami tiada berdaja lagi akan meneruskan perjuangan kita di tengah-tengah rakjat sendiri.” “Maka kami putuskanlah, bahwa pimpinan perdjuangan kemerdekaan kita diteruskan oleh sdr2: Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri, Sjahrir, Wongsonegoro. Hidup Republik Indonesia!” demikian wasiat itu.

Sejak surat wasiat itu ditanda tangani, Tan Malaka pergi meninggalkan Jakarta untuk keliling Jawa. Selama dalam perjalanan, Tan Malaka tidak pernah menggunakan identitas aslinya di hadapan khalayak umum. Tan Malaka juga tidak pernah memperlihatkan surat wasiat Presiden Soekarno yang dibawanya. Namun, upaya untuk menjatuhkan citra baik Tan Malaka di kalangan rakyat terus dilakukan lawan politiknya.

Kisruh surat wasiat itu ditandai dengan munculnya testamen palsu yang menyatakan penyerahan kekuasaan dari Soekarno-Hatta hanya kepada Tan Malaka, tanpa menyebut ketiga pemimpin politik lainnya. Selain beredarnya testamen palsu, muncul juga kabar Tan Malaka menggunakan testamen palsu untuk menipu orang-orang berpengaruh yang berhasil ditemuinya saat melakukan perjalanan keliling Jawa.

Kepada para pembesar itu, dikatakan bahwa Tan Malaka menyebarkan isu Soekarno-Hatta telah menjadi tahanan Inggris di Jakarta, dan sesuai surat wasiat yang dipegangnya, maka dia yang memimpin revolusi.

Saat situasi mulai kacau dan tidak terkendali, Soekarno-Hatta yang telah berada di Yogyakarta sejak 4 Januari 1946, akhirnya memutuskan untuk keliling Jawa melakukan propaganda pada bulan Desember 1946. Dalam propagandanya, kedua proklamator kemerdekaan Indonesia itu menyatakan bahwa penangkapan Soekarno-Hatta oleh tentara Inggris di Jakarta tidak benar, dan pusat pemerintahan ditarik ke Yogyakarta.

Penarikan pusat pemerintahan dari pusat ke daerah, jauh sebelumnya telah diungkapkan Tan Malaka kepada Soekarno, saat pertama kali mereka bertemu di rumah dokter pribadi Soekarno, Jalan Kramat Raya.

Saat konflik antara kelompok Tan Malaka dan yang kontra testamen semakin runcing, SK Trimurti datang menemui Soekarno bersama Sjamsu Harja Udaja. Dia mengaku memiliki testamen politik yang asli. Surat wasiat itu lalu diberikan kepada Soekarno, dan dirobek-robek kemudian dibakar. Pemusnahan testamen politik untuk Tan Malaka itu disaksikan langsung oleh Trimurti dan Sjamsu, di Istana Soekarno.

“Akhirnya kepercayaan yang tak pernah diumumkan itu dengan cara yang gelap dan samar dan rendah telah dikatakan sebaliknya?” demikian keterangan Adam Malik melukiskan wasiat Tan Malaka itu.

Sampai di sini ulasan singkat Cerita Pagi tentang salah satu peristiwa penting yang terjadi di masa-masa awal revolusi kemerdekaan Indonesia. Semoga memberikan manfaat dan menambah pengetahuan anda tentang peristiwa bersejarah di indonesia.