Sejarah Kampung Pulo saat Era Penjajahan

Sejarah Kampung Pulo Sebagai Kampung Persembunyian Pejuang — Kehebohan di Jakarta beberapa hari belakangan karena sebuah kampung di pinggir sungai ciliwung akan digusur rata dengan tanah. Warga menolak, pemerintah ngotot akan menindak. terajadilah bentrok. Apalagi Gubernur Ahok yang terkenal tegas dan tanpa pandang bulu ini adalah ancaman yang benar-benar mengerikan bagi para warga atau penduduk pemukiman liar di Jakarta.

kampung pulo 1

Tak banyak yang tahu cikal bakal Kampung Pulo tersebut. Namun tulisan sejarah berikut mungkin dapat menjelaskan sedikit latar belakang kenapa dinamakan Kampung Pulo. Seorang pemuka agama di Kampung tersebut menceritakan, Kampung Pulo memiliki andil dalam sejarah dalam kemerdekaan.

Sejarah Kampung Pulo

“Bicara mengenai sejarah Kampung Pulo, sangat panjang. Karena kampung ini sudah ada sekitar abad ke 17 atau tahun 1800-an lah. Sebelum ada Belanda di Indonesia kampung ini sudah ada lebih dulu. Di sini kampung pejuang yang tidak banyak orang tahu,” ujar sang pemuka agama tersebut.

Ia melanjutkan, dulunya Kampung Pulo dianggap sebagai Nusakambangan-nya Jatinegara, lantaran memang kampung ini lebih tertutup dibanding kampung lainnya. Dari pejuang, pendakwah, dan masyarakat umumnya memang tidak terlalu terekspos apalagi dimasukkan ke dalam sejarah.

kampung-pulo 2

“Dulu setelah pejuang kita menghabisi Belanda dengan memotong leher kompeni, kita buang mayatnya ke Rawa Bangke (sekarang Rawa Bunga). Para pejuang itu langsung mengamankan diri ke Kampung Pulo dan tidak diketahui oleh tentara Belanda lainnya,”

Awalnya Kampung Pulo adalah hutan. Sebagian wilayahnya dibuka oleh lima bersaudara (Aril, Rihen, Bandan dan kedua saudaranya yang belum diketahui namanya) yang diberi wewenang oleh kolonial Belanda berupa dua surat Verponding untuk menjadi tuan tanah yang menarik pajak pada para pemukim.

Semenjak itu, Kampung Pulo berubah menjadi pusat perniagaan di Timur Batavia. Bayangkan saja, di dekatnya terdapat pasar skala regional yakni, Pasar Jatinegara dan juga Stasiun Kereta Api Jatinegara yang membuat pertumbuhan ekonomi di Batavia saat itu lebih cepat.

Mayoritas penduduknya adalah suku Betawi, namun sejak 1970-an banak warga pendatang dari kulon (Banten), Bogor, dan sekitarnya bersamaan dengan usaha pedagang bambu yang datang dari wilayah hulu yang dijual ke Pasar Senen dan Mester.

Beberapa situs sejarah yang masih ada hingga kini yaitu Makam Habib Husin bin Muksin Bin Husin Alaydrus atau biasa disebut Shohibul Makam ada sejak tahun 1830. Makam Kyai Lukmanul Hakim atau Datuk yang ada sebelum tahun 1930.

Makam Kyai Kashim sejak 1953 dan Musala Al Awwabin sejak tahun 1927 yang kini telah direnovasi menjadi masjid. “Dulu warga Kampung Pulo memegang erat tradisi memakamkan anggota keluarga di lokasi rumah sendiri, jadi sering ditemukan makam yang berada dalam rumah,” Ujarnya.

Jatinegara_Tempo_Doeloe

Kerap dilewati kapal dagang

Lain lagi cerita Marhasan (89), salah satu orang tua di Kampung Pulo. Meski usianya renta, ingatannya cukup tajam. Dari pria yang lebih terkenal disapa Babeh Acang ini, memberikan cerita menarik tentang sejarah Kampung Pulo.

“Kenapa disebut Kampung Pulo, karena Kali Ci Liwung ngiterin kampung kita. Sebelah kiri kali, sebelah kanan juga kali, jadi kampung kita kaya pulau adanya di tengah-tengah, gitu ceritanya,” ujar Babeh Acang dengan semangat.

Secara geografis, kampung yang kini terdiri dari dua RW, yaitu RW 02 dan RW 03, itu memang dikepung Kali Ci Liwung. Sisi selatan, timur dan utara, Kampung Pulo berbatasan dengan kali yang berhulu di kawasan Bogor itu. Sisi barat Kampung Pulo berbatasan dengan Bali Mester.

Pria yang indera pendengarannya tak lagi tajam tersebut, lahir dan besar di Kampung Pulo. Segala peristiwa penting dan perkembangan kampung yang kerap disebut kampung banjir itu pun telah dialaminya, termasuk ketika penjajah Belanda melakukan aktivitas dagang di Jatinegara, daerah pusat perdagangan kala itu. Ketika zaman Belanda, Kali Ci Liwung, menjadi akses para penambang pasir. Saat masih bocah, ia sering melihat kapal yang hanya tersisa sejengkal saja dengan permukaan air karena penuh dengan pasir. Kapal-kapal itu melabuhkan muatannya di Manggarai untuk selanjutnya dikirim ke daerah lain untuk pembangunan.

“Kalau waktu zaman Jepang juga paling jahat itu. Daerah yang sekarang namanya Rawabunga, dulu namanya Rawabangke. Soalnya orang-orang yang nggak nurut sama Jepang dibunuh terus dibuang ke Rawabangke. Dulu itu masih rawa-rawa,” lanjut pria lima anak tersebut.

Keharmonisan Di Kampung Pulo

Meski zaman demi zaman, Kampung Pulo mengalami perubahan. Namun, segala perubahan itu tetap tak menghilangkan wajah aslinya, yaitu banjir. Pasalnya, memang sejak kecil, bahkan sebelum ia lahir, jika wilayah Bogor dilanda hujan, rumah di Kampung Pulo pun turut terendam akibat luapan air Kali Ci Liwung. Terbiasalah warga Kampung Pulo dengan kondisi demikian.

“Cuma, banjir dulu beda sama banjir sekarang. Kalau dulu biar banjir juga airnya bersih, coba sekarang, boro-boro. Tapi, sejak saya di sini, banjir paling besar itu ya tahun 1996, 2002 sama 2007, itu air sampai atap rumah,” ujar Babeh Acang.

“Dulu, di kali juga masih banyak ikan. Ikan tawes, ikan gurame, ikan mas, ikan lele, udang. Sambil mandi sambil mancing. Sekarang paling dapet ikan sapu-sapu doang,” lanjut Babeh Acang. Perubahan lain yang turut dirasakan Babeh Acang adalah jumlah penduduk yang semakin banyak. Pasalnya, perpindahan penduduk yang tinggi membuat Kampung Pulo kini, tak hanya dimiliki oleh orang Betawi, tetapi juga etnis lainnya. Namun, kondisi demikian bukan masalah. Hingga saat ini, belum terdengar warga antar etnis di Kampung Pulo bersitegang.

“Dulu ada orang Banten, orang Medan, orang Madura, orang Bugis. Mereka tinggal kelompok-kelompok sendiri. Kalau sekarang sudah campur satu sama lainnya,” ujar Babeh.

Kini Kampung bersejarah itu tinggal menunggu waktu untuk dihancurkan dan diubah menjadi proyek normalisasi Sungai Ciliwung yang diklaim mampu atasi banjir yang selama ini meneror warga Ibu Kota.