Peristiwa Sejarah Bandung Lautan Api

Peristiwa Bandung Lautan Api Sejarah Pertempuran Nasional — Kota Bandung dikenal sebagai Kota Kembang dan Parijs van Java, Bandung juga merupakan ibu kota provinsi Jawa Barat, selain itu Kota ini dikenal sebagai sebuah kota metropolitan terbesar di Jawa Barat. Dengan lokasi yang terletak 140 km dari tenggara Jakarta, Bandung juga memegang peringkat kota terbesar ketiga, dikalahkan oleh Jakarta dan Surabaya berdasarkan jumlah penduduknya.

bandung lautan api

Banyak hal-hal bersejarah yang terjadi di kota ini seperti lokasi pertempuran pada masa kemerdekaan yang dikenal dengan Peristiwa Bandung Lautan Api, dan pada tahun 1955 menjadi lokasi dilangsungkannya Konferensi Asia-Afrika, dimana pada masa itu pertemuannya menyuarakan semangat anti Kolonialisme oleh Belanda. Pada konferensi itu juga, Jawaharlal Nehru yang saat itu merupakan Perdana Menteri India berpidato tentang Bandung yang merupakan ibu kotanya Asia-Afrika. Terlepas dari itu, sesuai dengan topik kali ini kami akan mengulas tentang peristiwa di bumi hanguskannya Kota Bandung.

Awal Mula Peristiwa

Bandung, 24 Maret 1946. Dua orang pemuda Republik merayap perlahan-lahan mendekati gudang mesiu Jepang. Misi mereka satu: Membumihanguskan kota Bandung, kota tercinta mereka sendiri. Berbekal granat tangan, mereka bermaksud meledakkan 1.100 ton bubuk mesiu di gudang persenjataan yang dulu dimiliki Jepang di daerah Dayeuh Kolot, Bandung Selatan. Dua pemuda itulah yang kemudian diabadikan sejarah dengan nama Mohamad Toha dan Mohamad Ramdan.

Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi karena pasukan Inggris mulai memasuki kota Bandung sejak pertengahan bulan Oktober 1945. Di Bandung, pasukan Inggris dan NICA melakukan teror terhadap rakyat sehingga mengakibatkan terjadinya pertempuran. Menjelang bulan November 1945, pasukan NICA semakin merajalela di Bandung. Setelah masuknya tentara Inggris yang berasal dari satuan NICA memanfaatkannya untuk mengembalikan kekuasaannya atas kota Bandung. Hal ini menyebabkan semangat juang rakyat dan para pemuda yang tergabung dalam TKR dan badan-badan perjuangan lainnya semakin berkobar.

Pertempuran besar dan kecil terus berlangsung di Bandung. Malapetaka lain juga terjadi di Bandung, yaitu dengan jebolnya bendungan Sungai Cikapundung yang menimbulkan bencana banjir besar di kota Bandung. Peristiwa itu terjadi pada malam hari tanggal 25 November 1945. Pada saat itu kota Bandung dibagi menjadi dua, yaitu pasukan Sekutu menduduki daerah Bandung Utara dan Bandung Selatan menjadi daerah Republik Indonesia. Jebolnya tanggul sungai itu dikaitkan dengan aksi teror yang dilakukan oleh NICA sehingga menimbulkan amarah rakyat dan mereka melakukan aksi pembalasan.

Sejarah Bandung Lautan Api

Sesuai dengan kebijakan politik diplomasi, pihak Republik Indonesia mengosongkan daerah Bandung Utara. Namun, karena Sekutu menuntut pengosongan sejauh sebelas kilometer dari Bandung Selatan, akibatnya meletus pertempuran dan aksi bumi hangus di segenap penjuru kota. Kota Bandung terbakar hebat dari batas timur Cicadas sampai dengan batas barat Andir. Satu juta jiwa penduduk kota Bandung menyingkir ke luar kota. Pada tanggal 23 dan 24 Maret 1946 mereka meninggalkan kota Bandung yang telah menjadi lautan api. Peristiwa itu diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Tokoh pejuang dalam pertempuran Bandung itu, di antaranya: Aruji Kertawinata, Sutoko, Nawawi Alib, Kolonel Hidayat, Oto Iskandardinata, dan Kolonel A.H. Nasution (Panglima Divisi Jawa Barat).

Kronologi Peristiwa Bandung Lautan Api

Pada saat itu Menteri Keamanan Rakyat Amir Sjarifuddin mendatangi Bandung dan memerintahkan TRI untuk mengosongkan kota. Meski dengan berat hati perintah itu dipatuhi. Namun sebelum meninggalkan Bandung, TRI melancarkan serangan ke pos-pos tentara sekutu.

Di tengah pertempuran hebat pejuang Republik melawan tentara sekutu itulah sosok pemuda 19 tahun, Mohammad Toha dan teman seperjuangannya Mohammad Ramdan berhasil menjalankan misi meledakkan gudang mesiu sehingga menjadikan kota Bandung diselimuti api berkobar. Peristiwa itu disebut Bandung Lautan Api. Keduanya rela mengorbankan nyawa ikut gugur dalam ledakan dahsyat itu.

Langkah kedua pemuda itu diikuti oleh seluruh warga Bandung. Mereka membakar sendiri rumah-rumah mereka. Bandung benar-benar menjadi lautan api. Rakyat mengungsi ke daerah aman yang masih dikuasai Republik Indonesia. Iin (75), mengenang peristiwa itu. Dia ingat ayahnya sendiri yang membakar rumah mereka di kawasan Kebon Kalapa.

“Supaya tidak jatuh ke tangan Belanda. Bapak bakar rumah, saya masih kecil waktu itu. Mengungsi ke Bale Endah,” kata Iin. Ribuan warga Bandung lainnya melakukan hal sama. Lebih baik membakar rumah daripada membiarkannya jatuh ke tangan sekutu. Saksi mata yang melihat dari ketinggian melihatnya seperti lautan api karena Bandung terbakar di mana-mana.

Pahlawan Bandung Selatan

Sementara itu, benteng NICA yang terletak di Dayeuh Kolot, Bandung Selatan dikepung oleh para pejuang Bandung sebagai taktik menghancurkan daerah itu. Dalam pertempuran itu, seorang pemuda yang bernama Toha siap berjibaku untuk menghancurkan gudang mesiu dengan membawa alat peledak. Toha menyelundup dan meledakkan diri sehingga hancurlah gudang mesiu milik NICA. Toha gugur dalam menjalankan tugasnya untuk bangsa dan Negara. Peristiwa tersebut difilmkan dengan judul Toha Pahlawan Bandung Selatan. Sebagai peringatan kejadian ini juga telah dibangun tugu Bandung lautan api. Nama Mohamad Ramdan dan Mohamad Toha diabadikan menjadi nama jalan di Pusat Kota Bandung. Monumen Bandung Lautan Api dibangun di Tegalega.

Istilah di bumi hanguskannya Bandung kala itu yang kemudian menjadi populer, dan diciptakannya lagu untuk mengenang peristiwa tersebut.

Lagu Untuk Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api

Halo-halo Bandung
Ibukota periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali

Nah, itulah tadi ulasan mengenai Peristiwa Bandung Lautan Api yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan atau pengetahuan anda, tentang sejarah nasional di Indonesia.